Beberapa tahun terakhir, di Desa Punten memang jarang sekali warga yang menanami lahannya dengan apel. Perlahan, mereka mulai merubahnya dengan Jeruk Keprok yang konon jenis bibit tanaman aslinya memang berasal dari Desa Punten.

Kepala Dusun Payan, Desa Punten, Sapari, mengakui, komo-ditas jeruk keprok memang men-jadi favorit petani di Desa Punten sejak enam tahun terkahir. ‘’Mung-kin bagi petani, selain perawatan mudah, harga jeruk keprok lebih membawa keuntungan ekonomis daripada apel,’’ katanya.

Selain itu, anomali cuaca juga turut menjadi faktor alasan petani apel beralih ke jeruk keprok. Hu-jan yang tidak menentu membuat perawatan tanaman apel lebih sulit. Justru sebaliknya, hujan akan lebih baik bagi tanaman jeruk keprok. ‘’Perbandingan perawatan tana-man jeruk keprok dengan tanaman apel adalah 1 banding 3. Jika apel disemprot 3 kali, jeruk keprok ha-nya sekali,’’ tambahnya.

Begitu juga dengan harga jual. Kalau apel, dari tingkat petani dijual dengan harga Rp 2.500 – Rp 3.000/kilonya, itupun laba petani sangat nipis. Kalau jeruk keprok bisa mencapai harga Rp 15.000 kilonya, paling murah Rp 10.000. Pemasarannya juga tidak begitu sulit, bahkan pembeli dari supermarket biasa mengambil langsung dari kebun.

Jeruk Keprok unggulan Desa Punten Batu Malang

Menurut salah seorang petani jeruk keprok, Supaad, pupuk untuk menanam jeruk keprok berasal dari pupuk bokasi yang biasa dibuatnya sendiri dari campuran bahan or-ganik dan pupuk kandang.

Petani yang memiliki 1.000 pohon jeruk keprok ini juga men-gakui, bahwa jeruk keprok adalah jenis tanaman asli dari Desa Punten, namun sayangnya kalah pamor dengan apel. ‘’Karena itu, mulai saat ini kami berusaha memperkenalkan jeruk keprok sebagai peng-ganti ikon apel yang terkenal dari Kota Batu,’’ ungkapnya.

Sayangnya, dia mengaku pendampingan pemerintah kepada petani jeruk keprok di Desa Punten belum maksimal sehingga, promosi juga belum maksimal. ‘’Dalam waktu dekat kami akan membuat kelompok petani jeruk keprok agar pemerintah lebih memperhatikan kami dengan pendampingan teknologi cocok tanam maupun bantuan pemberian bibit jeruk keprok,’’ harapnya.

Di sisi lain, populasi pohon dan produksi buah apel Batu terus merosot. Pada 2005 dari 2,6 juta pohon apel, hanya 2,2 juta pohon yang produktif. Produksi buah apel sebanyak 1.235 ton dengan produktivitas 28 kilogram per pohon. Lima tahun kemudian, yakni 2010 hanya tersisa 2,5 juta pohon. Adapun yang produktif 1,9 pohon. Produktivitas juga menurun menjadi 17 kilogram per pohon, dengan hasil produksi 842 ton.

Jeruk Keprok Punten yang juga dikenal dengan Jeruk Batu-55 cocok dibudidayakan di kawasan dengan ketinggian antara 700-1.200 meter. Dulunya Jeruk ini dikenal dengan nama Jeruk Punten yang menurut asal usulnya ada sejak jaman Belanda dulu dan berkembang pada tahun 1970 an yang kemudian tergeser oleh berkembangnya tanaman apel pada tahun 1980 an.

Ciri khas dari buah Jeruk Keprok Batu 55 adalah adanya benjolan di bagian pangkal buah, sedangkan Cir-ciri yang lain adalah warna kulit buah oranye penuh, kulit buah agak tebal, rasa buah manis. Lokasi penanaman Jeruk Keprok Batu 55 sebagian besar ada di desa Punten dan Desa Oro-oro Ombo serta bebera pa dikembangkan di Desa Tlekung tempat Balai Penelitian Tanaman Jeruk.

Pemasaran Jeruk Keprok Batu 55 selain di sekitar Malang Raya juga beberapa kabupaten/ kota di Jawa Timur serta beberapa daerah di luar propinsi seperti Bali, Ja-karta, Bandung, Semarang, Jogya-karta, Pemalang, dan Kroya.

Jeruk keprok punten dulu sangat terkenal. Akibat serangan CVPD (Citrus Vein Phloem De-generation), tanaman jeruk ini pu-nah. Namun, dalam Kontes Jeruk Keprok Nasional tanggal 30 Juli 2005 lalu di Loka Penelitian (Lolit) Tlekung Kota Batu, jeruk ini berha-sil merebut perhatian publik.

Lebih dari 15 jenis keprok yang dilepas Menteri Pertanian sebagai varietas unggul, tersung-kur oleh keprok batu-55 sebagai pendatang baru. Varietas yang di-yakini sebagai ”turunan” keprok punten ini merebut kedudukan teratas untuk predikat ”keprok nasional”. Figur di belakang keberhasilan itu adalah Sutjipto Gunawan (52), pemilik kebun jeruk seluas 10 hektar di Giripurno, pinggiran wilayah Kota Batu.

Ikon Wisata

Semakin banyaknya tanaman jeruk keprok di Desa Punten di-harapkan pemerintah desa setem-pat menjadi ikon wisata tersendiri bagi Desa Punten. Selain jeruk keprok, potensi holtikultura yang kini dikembangkan adalah tana-man bunga hias.

Menurut Sekretaris Desa Pun-ten, Hening Trisunu, berada di Kota wisata pegunungan adalah kelebihan dan anugerah bagi warga Desa Punten. Karena itu, pihaknya kini tengah mengembangkan po-tensi wisata yang ada di salah satu dusun, yakni Dusun Kungkuk. ‘’Di sana, sedang dirintis konsep kam-pung wisata yang dilengkapi fasili-tas wisata seperti outbond, home-stay,’’ katanya.

Desa Punten merupakan daerah pegunungan yang terletak di kaki Gunung Arjuno dengan keting-gian 800 meter diatas permukaan laut. Desa Punten masuk dalam wilayah Kecamatan Bumiaji Kota Batu dengan total luas wilayah seluas 281.935 hektare. Dari luas wilayah tersebut, 39.680 hektare merupakan persawahan, sekitar 59 hektarenya adalah pemukiman, 12.080 tegalan, 125 hektare hutan negara, dan lain-lain berupa jalan umum dan makam umum sekitar 2.66 hektare.

Sebelah utara Desa Punten ber-batasan dengan Desa Tulungrejo, timur dengan Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto. Sebelah se-latan bersebelahan dengan Desa Sidomulyo Kecamatan Batu, dan sebelah barat dengan Desa Gu-nungsari. Desa Punten membawahi empat dusun yakni Dusun Krajan, Gempol, Kungkuk, dan Dusun Pay-an yang terbagi dalam 8 RW dan 35 RT.

Dalam sejarah Kota Batu sejak ditetapkannya Peraturan Pemerin-tah Nomor 12 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Administratif Batu hingga saat ini mengalami peningkatan status menjadi daerah otonomi Kota Batu, Desa Punten memiliki posisi yang sangat strat-egis, karena berada pada pusat wilayah pengembangan Agro Kota Wisata Batu.

Desa yang dihuni lebih dari 5.406 jiwa dalam 1.484 kepala ke-luarga ini seiring berjalannya wak-tu berubah menjadi desa mandiri karena didukung potensi sumber-daya manusia, sumberdaya alam dan sumberdaya budaya yang menonjol.

Apalagi dalam tatanan manajemen pemerintahan, Desa Punten telah mampu menyelenggarakan pemerintahan secara berkualitas, berdaya guna dan berhasil guna. Berbagai infrastruktur berhasil dibangun, termasuk infrastruktur kelembagaan masyarakat seperti PKK, LPMD, BPD, Linmas, Bum-des, Gapoktan, Karang Taruna dan kelembagaan masyarakat lainnya yang tersedia dalam kondisi yang memadai.

Keberadaan Infrastruktur terse-but bermanfaat dan berjalan baik karena juga didukung oleh sum-berdaya aparatur yang mumpuni dan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang tinggi.

Dewasa ini, Desa Punten men-coba strategi baru dalam men-jalankan peran dan fungsinya. Strategi tersebut diarahkan tidak hanya sekadar menonjolkan fungsi pelayanan prima, namun penon-jolan utama pada konsep pember-dayaan masyarakat dalam pem-bangunan di segala bidang. Konsep yang ditawarkan dalam strategi pembangunan desa ini lebih dikenal dengan entepreneurship Desa Punten. Wujud nyata yang telah dilakukan antara lain, pengkaryaan gedung serba guna untuk umum, pasar desa, pengelolaan lembaga keuangan desa (Bank Desa), pengelolaan lapangan olahraga untuk umum, Hippam, Gapoktan, administrasi kelistrikan, pengembangan kampung wisata dan sebagainya.

Dari sebagian konsep yang telah dijalankan tersebut, pada prinsipnya maish banyak hal yang harus dikembangkan dan diwujudkan guna menuju desa yang benar-benar mandiri dengan konsep entepreneurship. (sal)

Fakta Geografis:

Luas 281.935 hektare

  • 39.680 hektare (persawahan)
  • 59 hektare (pemukiman)
  • 12.080 hektare (tegalan)
  • 125 hektare (hutan Negara)
  • 2.66 hektare (lain-lain, jalan umum dan makam umum)

Karakter
Pegunungan, 800 Mdpl

Jumlah penduduk
5.406 jiwa / 1.484 kepala keluarga

Batas wilayah
Utara : Desa Tulungrejo
Timur : Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto
Selatan : Desa Sidomulyo Kecamatan Batu
Barat : Desa Gunungsari

Potensi ekonomi
Pertanian jeruk keprok
Kampung Wisata
Aneka makanan ringan

Leave a Reply

Your email address will not be published.