Pray for Sumatera: Dampak Mematikan Siklon Tropis Senyar dan Koto, Puluhan Warga Hilang dan Tewas

ByTitik Kartitiani

28 November 2025

Sumatera | Narasidesa.com — Musibah hidrometeorologi parah melanda sebagian besar wilayah Pulau Sumatera, dengan eskalasi bencana terjadi serentak mulai dari 24 hingga 28 November 2025. Banjir bandang, ba Kinjir luapan, dan tanah longsor terjadi di tiga provinsi utama: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Bencana ini dipicu oleh cuaca ekstrem akibat pengaruh Siklon Tropis Senyar dan Koto, menyebabkan puluhan korban jiwa dan puluhan orang hilang.

Kronologi dan Pemicu Atmosfer

Pusat bencana dimulai ketika Bibit Siklon Tropis 95B berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka pada 26 November 2025. Bersamaan dengan itu, Siklon Tropis Koto di Laut Sulu juga turut memperkuat sistem cuaca ekstrem.
​BMKG melaporkan bahwa kedua sistem siklonik ini memicu curah hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem (tercatat beberapa stasiun mencatat curah hujan melebihi 300 mm) di wilayah Aceh dan Sumut, serta hujan sedang-lebat di Sumbar dan Riau. Kondisi curah hujan yang ekstrem ini memiliki karakteristik yang mendekati peristiwa banjir besar di Jakarta pada awal tahun 2020.

Daftar Lengkap Wilayah Terdampak dan Data Korban

Bencana ganda ini menimbulkan dampak masif yang tersebar di tiga provinsi, dengan Sumatera Utara menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Di Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) mengalami kerugian infrastruktur yang kritis, di mana beberapa jembatan vital terputus total, menyebabkan lumpuhnya akses jalan utama, termasuk Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum) Pakkat, Doloksanggul.

Sementara itu, di Tapanuli Selatan (Tapsel), kerugian terbesar adalah hilangnya nyawa, dengan delapan warga dilaporkan meninggal dunia akibat longsor dan banjir. Bencana juga meluas ke Humbang Hasudutan (Humbahas) yang dilanda banjir bandang, serta di Kota Sibolga, di mana banjir merendam permukiman di kecamatan Sibolga Utara, Sibolga Selatan, dan Sibolga Kota. Ibu kota provinsi, Medan, beserta Deli Serdang, juga tidak luput dari bencana banjir yang memaksa evakuasi warga.

Di ujung utara, Aceh mencatat penetapan status darurat bencana di 10 dari 23 kabupaten/kota mereka. Di sana, banjir telah memaksa 1.497 jiwa mengungsi, dan secara tragis, dua warga dilaporkan meninggal dunia di Aceh Utara. Bergerak ke selatan, Sumatera Barat turut menderita. Banjir bandang dan tanah longsor melanda Agam, Padang Pariaman, dan Bukittinggi. Laporan darurat yang paling mengkhawatirkan datang dari Pasaman Barat, di mana tim SAR berjuang mengevakuasi korban setelah tujuh orang dilaporkan tertimbun longsor. Secara keseluruhan, hingga saat ini, Sumut menjadi fokus utama penanganan korban hilang dengan total 34 tewas dan 52 orang masih dalam pencarian.

Pemerintah terus menggerakkan tim gabungan SAR untuk mencari korban yang hilang, sekaligus membuka akses jalan yang tertutup material longsor dan mendistribusikan bantuan logistik ke desa-desa yang terisolasi. Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan di wilayah berpotensi bencana susulan terus ditingkatkan oleh BMKG.