BANTUL, NARASIDESA.COM Di Desa Murtigading terdapat wisata agro buah klengkeng. Pengunjung bisa memetik sendiri klengkeng segar langsung dari kebun. Lokasi wisata buah klengkeng terdapat di Pedukuhan Sanggarahan Desa Murtigading Sanden Bantul. Hanya 100 meter dari Ibu Kota Kecamatan Sanden.

Pengawas BUMDES Murtigading, Bowo, mengatakan bahwa ide wisata agro klengkeng berawal saat ia membaca di media cetak ada perkebunan klengkeng di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Ia bersama teman-teman petani pergi ke sana, dengan maksud menemui sang pemilik kebun yang letaknya tidak jauh dari Candi Borobudur.

“Tapi sesampainya di lokasi, kami tidak menemukan orangnya. Setelah bertanya-tanya ke penduduk setempat, ternyata orang yang kami cari  rumahnya di Prambanan. Namanya Pak Isto Suwarno, pemilik kebun dan pakar klengkeng”, jelasnya saat ditemui di kebun klengkengnya yang rimbun dan berbuah lebat pada Kamis (1/4) disela-sela acara Rapat Koordinasi Pengembangan Tata Kelola Kolaborasi Ketahanan Ekonomi Daerah Berbasis Pariwisata Budaya dan Pendidikan Di DIY yang diselenggarakan oleh Badan Kesbangpol Pemda DIY di Dusun Sanggrahan, Desa Murtigading, Sanden, Bantul. Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut antara lain; Drs. Rusdiyanto, MM., Kepala Bidang Ketahanan Sosial, Budaya, dan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Cahyadi Joko Sukmono, MM., serta perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul.

Bersama teman-temannya ia pun memutuskan pergi ke Prambanan. Setelah bertemu barulah mereka mulai belajar seluk-beluk klengkeng.

“Jenis klengkeng yang kami pelajari yaitu jenis klengkeng Itoh. Kami tertarik belajar tentang jenis klengkeng ini karena, seperti dikatakan Pak Isto, jenis ini hanya butuh tiga tahun sudah bisa berbuah. Selain itu masa panennya juga bisa kita atur, jadi kalau mau panen setiap bulan bisa”, papar pria yang akrab dipanggil Pak Bowo ini.

Ia mencontohkan, dengan mempunyai 12 pohon bisa diatur panennya sebulan sekali dengan menggunakan nutrisi tertentu.

Dalam perkembangannya, para petani diajaknya untuk memberi usulan kepada pemerintah desa agar mendapatkan bantuan bibit dan obat-obatan. Permohonan pun disetujui dengan pemberian 100 bibit pohon klengkeng Itoh. Dana desa pun salah satunya dianggarkan untuk ini.

“Kepada pengelola saya sarankan untuk menanam secara monokultur atau satu jenis saja tidak dicampur-campur. Ini memberikan pembelajaran juga kepada warga agar jika akan membuat satu usaha, kita harus fokus pada satu saja dulu sampai berhasil’, papar pria yang juga seorang pamong desa ini.

Dalam prosesnya ia pernah menemui kendala, tanaman banyak yang mati karena kebanjiran. Menurutnya yang terpenting jika hujan jangan sampai terjadi genangan atau kebanjiran. Yang kedua, setelah berbuah masalah lainnya muncul yaitu buahnya tidak bersih. Ternyata solusinya adalah pupuk yang digunakan harus dengan memakai pupuk kandang kotoran kambing dan pupuk kimianya memakai NPK Mutiara.

“Ke depannya saya harapkan masyarakat lain yang mempunyai pekarangan kosong agar meniru ikut menanam klengkeng agar pekarangan yang dimilikinya lebih memberikan manfaat, pun secara nilai ekonomi”, pungkasnya. (nch)

Leave a Reply

Your email address will not be published.