GERILOJI YANG DIPERCEKIK NAFSU: Antara Bahagia Hati dan Makmur Materi

ByCahyadi Joko Sukmono

20 November 2025

SulukDesa #10

GERILOJI merupakan sebuah kompas spiritual bagi peradaban. Ia bukan sekadar akronim untuk kemakmuran, melainkan sebuah urutan logis: dari cara pandang (mindset) yang benar, hingga cara kerja (manajemen) yang berhati nurani, menuju hasil (spiritualitas) yang diridai.

BAGIAN I: GEMAH RIPAH LOH JINAWI, Menukar Keyakinan dengan Keserakahan

Fondasi wirausaha sejati, menurut Geriloji, tidak dimulai dari modal atau omset, melainkan dari kedalaman jiwa:
​GEMAH (Bahagia Hati dan Pikiran): Ini adalah modal awal yang paling tak ternilai. Kebahagiaan dan ketenangan batin yang menjadi sumber energi, ketahanan, dan kejernihan visi.
​RIPAH (Makmur Ekonomi): Ketenangan batin membutuhkan penopang. Ripah adalah buah dari usaha, kemakmuran materi yang menjaga martabat dan menjauhkan dari kefakiran.

LOH JINAWI (Mengoptimalkan Karunia Tuhan): Cara terbaik mencapai Ripah adalah dengan Loh Jinawi. Ini adalah mindset dan keyakinan bahwa kita harus mengoptimalkan potensi, sumber daya, dan karunia yang telah dihamparkan Tuhan di mana pun kita terlahir atau tinggal.

Tragedi Spiritual di era “pembangunan” ini adalah kita membalik urutan suci tersebut. Kita mengejar Ripah (makmur) secara buta, berharap ia akan menghasilkan Gemah (bahagia). Kita menukar Loh Jinawi (keyakinan akan karunia Tuhan dan pengelolaan bijak) dengan Loh Serakah (eksploitasi tanpa batas).

Ketika wirausaha didorong untuk menimbun omset dan menganggap kompetisi sebagai perang habis-habisan, ia telah kehilangan hakikat Loh Jinawi. Kita lupa bahwa Loh Jinawi adalah janji bahwa rezeki ada untuk semua, asalkan kita kelola dengan syukur. Kita pun kehilangan Gemah, karena kekayaan yang didapatkan dengan mengorbankan ketenangan dan persaudaraan hanya akan menjadi beban kecemasan baru.

BAGIAN II: TATA TITI TENTREM KERTA RAHARJA, Kezaliman Berjubah Efisiensi

Untuk mengelola karunia Loh Jinawi, dibutuhkan Tata Titi, yaitu seni manajemen yang berhati nurani. Tata Titi adalah disiplin spiritual, bukan sekadar administrasi angka-angka:
​TATA TITI (Teliti): Detail dan integritas dalam pengelolaan.
​TITIS (Tepat Sasaran): Tidak melenceng dari niat utama: ibadah dan kemaslahatan umat.
​TATAG (Konsisten dan Presisten): Keuletan yang didasari The Strong Why (alasan kuat) yang luhur.
​TUTUG (Menuntaskan yang Sudah Dimulai): Tanggung jawab untuk menuntaskan amanah dan janji.

Tujuan dari seluruh rangkaian ini adalah mencapai Tentrem Kerta Raharja, sebuah predikat tertinggi: baldatun thayyibatun wwarabbun ghafur. Ini adalah puncak spiritual yang melampaui profit: negeri yang baik, makmur, damai, dan diridai Tuhan.

Di balik gemerlap pelatihan UMKM, Tata Titi hari ini telah tereduksi menjadi semata-mata alat efisiensi yang dingin. Kita Teliti dalam menghitung margin, tapi abai dalam menghitung martabat sesama. Kita Titis dalam menargetkan pasar, tapi melenceng dari sasaran sosial. Kita Tatag dalam menimbun keuntungan, tapi rapuh dalam solidaritas.
​Manajemen yang kehilangan roh spiritual ini tidak akan pernah menghasilkan Tentrem Kerta Raharja, melainkan hanya Kekayaan Individual dalam Kebisingan Sosial. Jika kebijakan pembangunan hanya mampu mendatangkan kekayaan, tetapi tidak mampu menghadirkan kedamaian jiwa dan solidaritas sosial, maka itu adalah kezaliman berbalut pembangunan.

PENUTUP: KLAIM KEMBALI HAKEKAT GERILOJI

Kita perlu mengakhiri Suluk individualisme yang menyelinap dalam jubah kewirausahaan ini.

Geriloji mengajarkan bahwa sukses sejati adalah kesatuan utuh. Tidak ada Ripah yang berkah tanpa Gemah yang tenang, dan tidak ada Tata Titi yang sempurna tanpa tujuan Tentrem Kerta Raharja kolektif.

Kembalikan wirausaha ke dalam bingkai Koperasi yang Berhati Nurani, di mana keuntungan sekecil apapun wajib kembali untuk memperkuat martabat bersama, dan di mana Emas yang kita cari bukanlah yang dinilai dari omset, tetapi dari ketiadaan rasa takut dan kuatnya solidaritas di antara warga.