ANALISA DAMPAK PERANG HYBRID RUSIA-UKRAINA TERHADAP INDONESIA

BySuper Admin

28 February 2022

Oleh : ARUM KUSUMANINGTYAS

BAGIAN 1 : JALUR SUPPLY ENERGI, CRYPTO COIN & UU ASSET DIGITAL, BREAD BASKET, NUKLIR, PERANG ANTARIKSA

NARASIDESA | OPINI – Mencermati perkembangan situasi Rusia-Ukraina saat ini, memang seharusnya melepaskan diri dari kerangka berpikir ala perang dingin blok barat vs blok timur, maupun demokrasi vs komunis. Eskalasi situasi yang terjadi, tidak bisa hanya dilihat dari satu faktor saja. Setidaknya ada beberapa rangkaian peristiwa yang menarik untuk dicermati sebelum militer Rusia mulai memasuki wilayah Ukraina kemarin (24/2).

Peristiwa 1. 3 Februari 2022
Jerman, Belanda dan Belgia mengalami serangan siber dengan sasaran jalur pengiriman minyak bumi via kapal-kapal tanker. Dimana akibat serangan siber itu, membuat kapal-kapal tanker tersebut teralihkan dari tujuannya, yaitu Pelabuhan Oil Terminal masing-masing negara tersebut. Peristiwa ini mendapat perhatian khusus dari otoritas masing-masing negara karena dampak serangan tersebut pada cadangan energi masing-masing negara anggota EU tersebut. Serangan siber ini ditenggarai dilakukan dari berbagai lokasi, yaitu: Rusia, Ukraina, dan Polandia.
Selain itu, peristiwa ini membawa volatilitas pasar energi yang luar biasa. Harga minyak bumi BRENT dan WTI sudah berada di atas level USD 90/ barel. Bahkan kemarin, untuk BRENT sudah mencapai harga USD 102/ barel. Harga LNG pun terus melonjak, hingga kini di kisaran USD 4.5/ mmbtu dari semula di Kuartal 1 thn 2021 ada dikisaran USD 2.76/ mmbtu. Kenaikan LNG ini tentu sangat berdampak pada industri manufaktur Eropa dan pasokan energi ke rumah tangga di Benua Eropa. Terlebih, Rusia itu adalah pemasok 40% LNG yang mengalir ke Eropa via Nord Stream . Alternatif lain yang dilirik oleh negara-negara EU adalah Qatar untuk memasok LNG ke Eropa, tetapi fakta berkata lain. Qatar hanya mampu mengalihkan 15% pasokan LNG nya dari kontrak berjangka dengan pasar konvensionalnya, yaitu: Korea Selatan, China dan India. Hal ini tentu berdampak pada harga energi di Eropa yang sudah pasti meningkat dan beberapa negara masih menghadapi cuaca dingin.

Peristiwa 2. 17 Februari 2022
Pemerintah Ukraina mengesahkan UU tentang Asset Digital. Dimana hal ini sekaligus melegalisasi transaksi crypto currency dan pengakuan asset digital oleh negara. Walaupun tidak mendapat dukungan dari komunitas EU dan AS, Pemerintah Ukraina menggunakan sistem crypto ini untuk menarik kelompok investor jenis baru dan non konvensional untuk peningkatan ekonomi negaranya. Tentunya dengan memanfaatkan layanan “cost of money”dengan memberikan ekosistem legal bagi crypto currency ini. Hal ini tidak berangkat dari 0, karena memang Ukraina terkenal sebagai salah satu safe heaven untuk melakukan crypto mining, bahkan menjadi wilayah kerjasama dengan Rusia juga di sisi ini. Ukraina mampu tumbuh menjadi wilayah menarik untuk investasi dalam bentuk digital dan kedepannya siap memberikan layanan crypto mining dan cloud system untuk crypto currency ini karena pasokan listrik negara ini yang memang sangat memadai karena ditopang oleh teknologi nuklir. Saat ini, mayoritas listrik di Ukraina disediakan dari 15 reaktor nuklir, selain ditopang dengan LNG. Transaksi pencairan crypto ke uang fiat (konnvensional) via eksternal wallet paling banyak menggunakan mata uang USD. Jadi bisa tergambar siapa yang diuntungkan dari sistem ekonomi baru yang dilegalkan oleh Ukraina ini ya, dengan pola memanfaatkan selisih kurs antar dua negara ini saja.

Peristiwa 3. 21 Februari 2022
Pidato resmi Putin tentang Ukraina yang memancing banyak reaksi dari berbagai belahan dunia. Putin dengan jelas menyatakan kedekatan budaya dan relasi dua wilayah di Ukraina yang dianggap “made by Russia tahun 1917’’.
Menarik untuk dicermati disini, isi pidato tersebut yang menggunakan strategi sosial masyarakat dan kebudayaan sebagai perspektifnya. Pendekatan budaya dan sejarah asal usul kewilayahan, ditangan Putin bisa menjadi alat yang sangat kuat. Pemahaman era KNOWLEDGE BASED ECONOMY dan KNOWLEDGE BASED GEOPOLITICS sudah menjadi kesadaran Putin. Ancaman invasi militer ke Ukraina muncul dalam pidato ini dan saat pidato dibacakan, militer Rusia yang telah berjaga di perbatasan negara mereka. Dan sempat hendak ditarik mundur.

Nah, dari situasi ini, akan gegabah kalau kita menyamakannya dengan relasi China-Taiwan. Karena konsep teritorial Rusia dan China berbeda.
Selepas Pidato Putin ini, berbagai reaksi dikeluarkan tokoh-tokoh dunia. Diawali dari Sekjen PBB yang mengingatkan Rusia akan nilai kemanusiaan dan mencegah perang. Langkah lebih taktis dilakukan oleh Presiden Prancis Macron yang langsung memprakasai “gencatan senjata” antara Rusia-Ukraina, menghentikan segala pertempuran. Baik riil maupun di dunia maya. Selain itu, Perwakilan tetap China di PBB pada saat yang bersamaan terus menggaungkan langkah diplomatik untuk penyelesaian dan menyatakan meminta AS berhenti menuang minyak ke dalam api.
Pemerintah AS sendiri, langsung diumumkan oleh Presiden Biden akan menjatuhkan sanksi maksimal pada Rusia. Respon Rusia terkait ancaman ini hanya ditanggapi oleh juru bicara Kemlu Rusia secara normatif.

Peristiwa 4. 23 Februari 2022
Kepala Badan Antariksa Rusia Dimitry Rogozyn mengeluarkan pernyataan terkait jika sanksi tetap akan dilakukan oleh AS, EU dan aliansinya, maka Rusia akan menarik diri dari kerjasama global terkait antariksa yang sedang berlangsung, khususnya dalam menjaga orbit dari International Space Station (ISS) yang merupakan enabler dari sistem GPS dan penginderaan jarak jauh yang sudah menjadi bagian dari kebutuhan informasi sehari-hari kita saat ini. Yang membuat Internet of Things itu bisa berlangsung. Sehingga memungkinkan kita bisa melacak pesanan kita dari market place sampai mana, drivernya lewat mana saat kita pesan makanan online, maupun kepoin lokasi si doi lagi dimana sama siapa, dll.

Selain itu, peristiwa ini juga memicu peningkatan perang antariksa dimana industri-industri satelit global menjadi sasaran. Baik satelit yang milik pemerintah, maupun swasta. Peristiwa tanggal 3 Februari menjadi contohnya. Hal ini dinyatakan oleh Direktur NRO, lembaga intelijen AS yang berfokus pada satelit dan berada di bawah Kementerian Pertahanan AS. Yes, pola ini yang benar-benar mengubah tataran permainan yang membuat Eropa dalam “turning point” dan sekali lagi, kita harus melepas konsep berpikir ala perang dingin dulu.

Peristiwa 5. 24 Februari 2022
Hari yang super sibuk. Putin melancarkan invasi pertamanya dengan menguasai obyek-obyek vital negara Ukraina. Selain Bandara, Rusia juga menguasai Chernobyl, reactor nuklir Ukraina yang sudah tak lagi beroperasi dan pada tahun 1986 menjadi topik dunia karena terjadi kecelakaan dan dampak radioaktifnya masih tersisa hingga hari ini. Walau sudah tak lagi beroperasi, Chernobyl memiliki fungsi komunikasi politik yg amat strategis.

Setelah meluncurkan invasi militernya, bisa dilihat agenda Putin yang padat hari itu. Dari pukul 17 waktu setempat menerima kunjungan kerja Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, dilanjutkan telepon bilateral ke: 1) Presiden Iran (21.05); 2) Perdana Menteri India (21.20); 3) Presiden Perancis (23.30) untuk menjelaskan keputusan invasi ini. Kenapa negara-negara tersebut perlu diajak bicara oleh Putin? Persoalan PANGAN & NUKLIR.

BREAD BASKET
Istilah yang dipakai untuk penghasil gandum. Nah, Rusia dan Ukraina selama ini menjadi bread basket nya Eropa juga. Silahkan melihat daftar negara penghasil gandum terbesar saat ini ya. Yep, China dan India ada di nomor 1 dan 2, selanjutnya Rusia. Itulah kenapa, India menjadi penting untuk diajak bicara oleh Rusia. PASOKAN PANGAN. Nah, posisi India ini “diamankan” oleh Putin melalui Pakistan. Selain sama-sama berada di wilyah Asia Selatan dan gerbang menuju Samudera Hindia dan Samudera Pasifik via selatan, kedua negara ini memiliki relasi sejarah yang serupa antara Rusia dengan Ukraina. Pakistan juga salah satu negara produsen gandum terbesar dunia. Dan yang utama, kedua negara ini juga memiliki persenjataan nuklir yang modern di kawasan Selatan. Pakistan juga menjadi mitra dekat China melalui kerjasama bilateral mereka CPEC (China Pakistan Economic Corridor) yang merupakan bagian dari platform Belt & Road Initiative.

Berdasar dari perspektif bread basket ini, maka sekali lagi, China menjadi penentu situasi saat ini. Produksi gandum China akan menentukan nasib situasi pangan banyak negara Eropa jika krisis ini berkelanjutan. Terlebih, masyarakat China memiliki beberapa bahan pangan pokok selain gandum.FYI, China saat ini juga negara penghasil beras terbesar di dunia.

Nah, berdasarkan peristiwa dan situasi-situasi ini apa dampaknya ke Indonesia? Yang jelas ini bukan pertempuran kita. Jadi dampak langsung tidak ada, tetapi kita jelas harus merasakan dampak turunan, yaitu:

1) kenaikan harga pangan. Terutama tepung terigu dimana kita biasa impor dari Ukraina. Jelas pasokan langsung terganggu. Kita net importir gandum. Mie instan, gorengan, kripik dan snack-snack jelas jadi terdampak harganya. Mayoritas UMKM kita dari berbagai skala mikro sampai menengah adalah produsen makanan dan banyak menggunakan terigu ini;

2) kenaikan harga energi. Nah, beberapa jenis BBM jelas sudah naik. Dan untuk LNG sebagai kebutuhan industri, dengan kenaikannya yang 100% sendiri, tentu akan menekan pemulihan industri kita yang Purchasing Manager Index nya sedang membaik. Jika diberi langkah insentif dengan subsidi LNG, tentu kebijakan ini akan menekan ruang fiskal negara juga. Solusi jangka pendek untuk hal ini bisa diselesaikan dengan menyerap LNG Domestik dan ruang subsidi diberikan disitu. Tentunya dibarengi dengan good will pemerintah menghentikan impor LNG oleh Pertamina di sini.

3) waspada narasi-narasi dengan sentimen SARA dan muatan yang berupa benturan politik identitas. Di dunia maya, sudah banyak sirkulasi foto-foto heroik Presiden Ukraina dan berbagai meme politik yang bisa memancing emosi dan sentimen nasionalisme.

Ah, jadi panjang ya. Intinya, kita memasuki new age of war. Invasi militer oleh Rusia ke Ukraina tidak bisa dipandang akibat satu klausul saja, karena alasan Ukraina bergabung dengan NATO misalnya. Ada banyak layer yang harus kita waspadai semata-mata untuk memahami posisi Indonesia karena memiliki letak geografis yang sangat strategis penghubung dua samudera: Hindia dan Pasifik. Dan lokasi perebutan teritorialnya saat ini tidak hanya di lautan, justru lebih intens di Antariksa, khususnya di Low Earth Orbit (LEO), tempat satelit-satelit sebagai bagian dari infrastruktur digital beroperasi. Jadi banyak kepentingan yang ingin menjadikan Indonesia sebagai proxy.

Quo Vadis Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *